Menjadi Penengah!
Sakit hati, kok? Dalam mengambil keputusan, kita akan disuguhkan kedekatan-kedekatan psikologis di diri kita. Kedekatan perkawanan, kedekatan hubungan darah, kedekatan pengalaman, kedekatan profesi, atau segala kedekatan yang mampu mempengaruhi pilihan kita. Pilihan yang seharusnya adil, akhirnya menjadi sebuah pilihan yang subyektif. Meski saya pikir hal itu wajar. Bayangkan jika akhirnya anda memilih untuk membela saudara anda, ketimbang orang lain yang kebetulan bersiteru dengan saudara anda.
Memilih adalah hal gampang, tapi memilih yang adil tentu susah. Sesusah membeli pakaian baru di Mall, jika anda memang sedang kehabisan uang. Setidaknya anda hanya mungkin untuk melihat dan menyentuhnya saja. Untuk memilikinya sangat tidak mungkin. Memilih yang baik belum tentu adil, begitupun sebaliknya memilih yang adil belum tentu baik. Semua memiliki sisi keuntungan masing-masing. Keuntungan yang tentunya bersandar pada harapan yang dicari oleh si pemilih.
Keuntungan tidak selalu menjadi dua sisi mata uang yang selalu bergandengan dengan sebuah pilihan. Memilih tidak selalu harus mendapatkan keuntungan. Memilih tidak selalu berujung pada kesenangan, but u must be choosing. Kayak saat ujian Nasional yang selalu saja memakai soal pilihan ganda, dari saat gwa masih SD. That’s reality. Choosing is suck!
Memilih saat kita harus menjadi penengah adalah dua hal yang kontradiktif. Di satu pihak kita harus obyektif, di satu pihak kita harus menentukan pilihan. Meski kita sadar memilih tidak sama dengan membela. Jika ada persoalan yang membuat kita tidak harus membela, disana kita telah menjadi seorang penengah. Penengah yang bijak sana tetap saja harus memilih.
Be Wise to solving a bad problem. Be heroes in the bad movies story. Kayak Batman yang selalu nutupin mukanya karena dia malu kalah ganteng dengan Superman. Sungguh cerita film yang tolol.
Saat anda menjadi penengah, mungkin anda ngga merasa menjadi pemilih. Anda berpikir anda adalah wasit. Anda merasa menjadi orang yang bebas nilai, bebas dalam perkara pilih-memilih. Anda salah anda tetap harus memilih. seperti wasit main bola, anda harsu menentukan pilihan apakah pelanggaran itu layak dikasih hukuman pinalti atau tidak. KAyak bapak hakim yang terpaksa memutuskan orang bersalah setelah mempertimbangakan informasi dari kedua orang yang bersengketa.
Di sana penengah kadang ragu-ragu. Kadang kebingungan dalam menentukan pilihan. Ngga ada alternatif pilihan di dunia ini. semua hanyalah oposisi biner alias pertentanga dua hal. Namun tetap saja, penengah bukan orang ketiga. Ngga ada hal ketiga dalam sebuah pilihan. Pilihan alternatif hanya ungkapan untuk tidak menunjukkan pembelaan. Semua hanya berujung pada dua pilihan, karena yang ketika hanyala setan (kata nenek kalo kita sedang berduaan dengan pacar). It is very dangerous.
Terus sekarang jika takdir kita hanyalah menjadi penengah, apakah kita harus siap ragu, atau kebingungan dalam menentukan pilihan. (Shit gwa lahir menjadi anak tengah dalam keluarga. Semoga ini tidak menjadikan gwa seorang penengah.) Memilih untuk tidak membela bos ditempat kerja kita yang sedang memarahi karyawan lainnya. Memilih untuk tidak membenarkan ucapan dosen yang sebenarnya salah, namun malu mengakui di depan mahasiswanya. Memilih untuk tidak menuduh seorang kawan pelit, hanya karena dia tidak bisa membeli kado saat datang di Ultah kawan karib lainnya. Yang penting anda tidak malu untuk mengatakan bahwa anda memang ragu dan sedang kebingungan untuk memilih dan mengatakan bahwa media ini memang suck.