Wednesday, November 14, 2007

Melawan Takdir Perempuan

Gwa terjebak dalam situasi yang sebenarnya ngga gwa inginkan. Menjadi tua. Gara-gara menjengguk seeorang temen yang melahirkan, gwa sadar bahwa gwa sudah terlalu tua untuk disebut remaja. Gwa sudah sepantasnya menjadi seorang ibu dan kemudian tunduk untuk menjadi tua. Gwa benci itu. I hate to be that!

Umur gwa memang sudah sangat matang hanya untuk menjalankan pernikahan, tapi keinginan belum juga muncul. Untuk ukuran wanita, angka 26 sudah cukup untuk mendapatkan julukan perawan tua. Sebuah stereotype yang setiap wanita pasti akan menolaknya. Tapi untung gwa hadir dan lahir di era kesetaraan sudah mulai bergulir. Emansipasi seakan menjadi gerbang penyelamat untuk kasus tersebut. Setidaknya, for me.

It’s not mean i don’t want to have a baby, but to pregnant is to hard for me. I’m young dan still wanna be young. Ngga ada kerutan yang boleh nempel di kulit gwa. Ngga ada sesuatu hal yang boleh membuat gwa untuk tertahan, sekalipun seorang bayi. Seorang bayi - setidaknya untuk saat ini - masih akan membuat jadwal hidup yang tersusun akan berantakan.

Pernikahan hanyalah sebuah ritual primitif yang membuat gwa akan terpaksa mengandung. I love everything about sexual, but no with married. Not yet. Dan aktivitas sex semata-mata tidak untuk bereproduksi ada wilayah lain yang juga tidak kalah penting, “gairah” misalnya. Bukan berarti gwa pengamba sex bebas, tetapi untuk mendapatkan sebuah “gairah” hidup lebih bebas, bisa saja gwa salurkan leat sex.

Intinya gwa ngga mau hamil dan ngga mau punya bayi (untuk sekarang ini). Tentang pernikahan gwa katakan gwa belum siap. Gwa ngga mau terjebak menjadi istri yang pasrah seperti serial Desperate Housewives.
Menjadi Lynette
yang kerepotan mengasuh 4 anak dan sabar menunggu suami yang belum tentu jujur akan aktifitasnya.

Gwa ngga bisa!

Posted by dayu.cute at 22:28:14
Comments

6 Responses to “Melawan Takdir Perempuan”

  1. saylow says:

    Pada akhirnya nanti, kita semua akan pasrah akan kodrat kita…

    dan ingat dayu,… shit may happen. we never know.

    i saylow.
    http://saylows.com

  2. dod says:

    pernikahan emang cuman hal yang formal, dan ga perlu dimoralisasi berlebihan (seperti yng biasa dilakukan kebanyakan orang).

    punya anak, atau menikah, atau bersuami, belum tentu seketika jadiin lu sebagai pekerja rumah tangga yang pasrah aja… make your move fella,

    dominasi tuh lahir bukan karena dia telah ada sebelumnya, tetapi juga ketika kita menerimanya menjadi bagian dr kita…

    salam kenal yaa
    D

  3. nia says:

    WB Dod. Nice to meet u i’m Ziner too.
    Nia-Zine, kasih emeil kamu dong!

  4. jay says:

    believed in nature. . .
    cos nature found its way…
    life, death, sex, birth, just a one of a nature way being a human…

    jays

  5. Yanuar says:

    dengan emosi yang meluap-luap dan mind marginality yang terkonsep untuk selalu menolak, akan menjadikan individu2 spt dayu akan menjadi terkotak-kotak.
    entah disadari apa enggak, umur sekian, kita akan tertelingkup dalam kotak pikiran spt sekarang. umur sekian juga berlaku juga.
    tapi yaa.. begitulah.
    my life is my way.

  6. dadap says:

    tenang aja wajah kita masih mirip yang kemarin ko…

Leave a Reply