Melawan Takdir Perempuan
Umur gwa memang sudah sangat matang hanya untuk menjalankan pernikahan, tapi keinginan belum juga muncul. Untuk ukuran wanita, angka 26 sudah cukup untuk mendapatkan julukan perawan tua. Sebuah stereotype yang setiap wanita pasti akan menolaknya. Tapi untung gwa hadir dan lahir di era kesetaraan sudah mulai bergulir. Emansipasi seakan menjadi gerbang penyelamat untuk kasus tersebut. Setidaknya, for me.
It’s not mean i don’t want to have a baby, but to pregnant is to hard for me. I’m young dan still wanna be young. Ngga ada kerutan yang boleh nempel di kulit gwa. Ngga ada sesuatu hal yang boleh membuat gwa untuk tertahan, sekalipun seorang bayi. Seorang bayi - setidaknya untuk saat ini - masih akan membuat jadwal hidup yang tersusun akan berantakan.
Pernikahan hanyalah sebuah ritual primitif yang membuat gwa akan terpaksa mengandung. I love everything about sexual, but no with married. Not yet. Dan aktivitas sex semata-mata tidak untuk bereproduksi ada wilayah lain yang juga tidak kalah penting, “gairah” misalnya. Bukan berarti gwa pengamba sex bebas, tetapi untuk mendapatkan sebuah “gairah” hidup lebih bebas, bisa saja gwa salurkan leat sex.
Intinya gwa ngga mau hamil dan ngga mau punya bayi (untuk sekarang ini). Tentang pernikahan gwa katakan gwa belum siap. Gwa ngga mau terjebak menjadi istri yang pasrah seperti serial Desperate Housewives.
Menjadi Lynette yang kerepotan mengasuh 4 anak dan sabar menunggu suami yang belum tentu jujur akan aktifitasnya.
Gwa ngga bisa!